Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu

Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu
Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuhnya tapi bukan jiwa mereka,
Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi

Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu
Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan

Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh

Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan
Sebab ketika Ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka Ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Anakmu bukan Anakmu (Kahlil Gibran)

Malam mulai terlihat, rembulan pun semakin menampakan cahanya. Waktu itu saya iseng membaca puisi dari Penyair sekaligus Filsuf kahlil gibran, yang berjudul Anakmu bukan Anakmu. Saya lalu membayangkan kisah seorang anak, di salah satu tempat saya berutinitas sehari-hari.

Pada usia 7-11 tahun, banyak yang bilang pada masa ini, anak sudah mampu berpikir secara abstrak dan menguasai penalaran. Kemampuan ini akan membantu anak melewati masa peralihan dari masa remaja menuju fase dewasa atau dunia nyata. Yang artinya pada masa inilah yang mungkin bisa dibilang pembinaan oleh orang tua harus lebih dioptimalkan, apalagi dari segi emosional yang selalu berubah-ubah.

Namanya Ardi, umurnya 11 tahun. kehidupannya berbeda dengan kebanyakan anak seusianya, lazimnya anak seusianya hanya disibukkan dengan bermain dan belajar, dari segi karakter anak seusinya semakin ingin tahu banyak dan ingin mencoba semuanya. Disitulah kemudian perang kebanyakan orang tua dengan bijak bisa membingbingnya.

Awal bertemu dengannya di salah satu tempat rehabilitasi anak yang ada di Makassar, dan diamanahkan untuk membantu mengajarkan membaca dan menulis untuk anak-anak di tempat itu. Tidak lama menjalankan rutinitas yang diamanahkan, saya kemudian mulai akrab dengan anak-anak yang sedang menjalankan rehabilitasi di tempat itu.

Dengan keakraban yang mulai terbentuk, adik-adik di tempat itu mulai terbuka dan bercerita dengan sendirinya. Ardi salah satunya, dia bercerita tentang bagaimana dia bisa direhabilitasi. Dia tertangkap di salah satu tempat oleh satuan Polisi Pamong Praja, pada saat itu dia sedang menggunakan obat-obatan terlarang yang ucap dia bisa menenangkan pada saat stres.

Sedangkan dari data psikologinya, Ardi tergolong anak yang cerdas. Meskipun belum fasih membaca dan menulis, tapi kemauan untuk kemudian ingin belajar terlihat dengan ketekunannya selama menjalani prograram pendidikan yang ada di tempat rehabilitasi . Ardi yang hanya sampai kelas 3 SD,  kemudian memutuskan untuk berhenti bersekolah pada saat belum bisa menulis dan membaca. Selama satu bulan lebih menjalani program pendidikan di rehab, perlahan mulai fasih membaca dan menulis.

Dengan rasa sangat penasaran dalam benak, apa yang membuat anak seusianya bisa stres padahal hanya bermain dan belajar. “Apa yang kasi streski dek?  Tanyaku, diapun menjawab  banyak sekali kak, saya kemudian memotong lagi “kah tanyama kapang, saya ji poeng”.. “pokoknya banyak sekali kak”.. ucapnya.

Dengan suasana gaduh di tempat itu, anak-anak yang mulai berlarian di ruang tengah, maklum di tempat itu waktunya bermain. Ada beberapa anak yang bermain dengan bola yang di lemparkan keatas dengan jari yang satu sibuk memilah tutup botol yang menjadi syarat permainan itu, saya pun berdiri dari tempat duduk berniat mengambil segelas air karena pada saat itu cuaca sangat panas. Pada saat ingin berjalan kedapur.

“kak?  saya pun berbalik kearahnya dan menjawab panggilannya”kenapaki dek? “Mauki kemana kak? kembali jiki kesini toh masih mauka cerita bela”.. saya menjawab “kah tungguma kapang tidak larija, mauja ambil air di dapur” jawabku dengan cepat, karena dapat peluang untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya tadi.

Saya kemudian duduk kembali sambil menyandarkan badan di sofa itu, ardi pun mulai bercerita sebenarnya toh kak.. banyak sekali masalahku.. makanya sampai di rehab disini.
pembicaraan saya disiang itu pun mulai mengalir, dia bercerita tentang kondisi kedua orang tuanya yang setiap hari bertengkar di hadapannya.

Dan tidak lama kemudian kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah, bukan cuma itu masalahnya, sebelum orang tuanya berpisah. Ucapnya, dia sering mengalami tindak kekerasan karena di jadikan sebagai pelampiasan amarah oleh kedua orang tuanya. Itu yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa anak seusianya berani memakai obat-obatan terlarang, tidak berhenti disitu kisahnya, sambil meneteskan air mata diapun melanjutkan ceritanya.

Setelah kedua orang tuanya berpisah dia kemudian di titip di panti asuhan, entah dengan alasan apa bapak ardi melakukan itu. Sesekali di jemput oleh bapaknya untuk di pekerjakan sebagai tukang ganti pembungkus sadel  motor, jika sudah tidak dibutuhkan ardi kemudian dikembalikan kepanti asuhan tersebut. Saya mulai terbawa dengan ceritanya dan mulai mebaringkan badan di sofa yang saya duduki.

“Terus kenapa pale sampai pake obat-obat padahal tidak boleh toh? Lanjut bertanya pada ardi, “begitu mami dari pada saya pikir terus’i kak, apalagi banyak ja juga sama temanku”, jawabnya lagi. Dia melanjutkan ceritanya, kata ardi diapun iri dengan anak-anak seusianya. Yang bisa bersekolah dan merasakan bahagianya bermain dan belajar , dan indahnya berceloteh bersama keluarga dirumah, pipi nya pun kembali basah oleh air yang mengalir dari matanya.

Dia pun berkata lagi, “tapi enakmi saya rasa disini kah banyakmi temanku” Kemudian tertawa kecil, “iyye cocokmi itu disinimi dulu toh,kah banyakji juga saudarata disini, sambungku.
“kak pergika dulu nonton nah? Sambil beranjak dari tempat duduknya, “iyye pergi miki ajak juga temanta yang di kamar”  balasku.

Sambil berbaring di sofa yang agak empuk, saya kemudian merenungkan kembali cerita ardi. Selain lingkungan sosial dan pendidikan yang masih perlu dibenahi di negeri ini, sebagai calon orang tua nantinya, menurutku baiknya kita mulai banyak memperhitungkan dan belajar banyak tentang aspek dan kebutuhan anak agar  tidak ada ardi-ardi lain lagi yang merasakan keadaan seperti itu.

Karena menurutku masuk akal juga jika Kahlil Gibran menulis di salah satu syairnya, bahwa “Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu, karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri” karena orang tua baiknya cuman memperhatikan fase-fase sesuai dengan kebutuhan anak, tapi tidak memaksakan kehendak yang kemudian tidak relevan dengan fase dan pertumbuhan karakter anak.

Baiknya juga, sebelum memulai dan memutuskan untuk berkeluarga harusnya banyak mempertimbangkan beberapa aspek tentang keluarga yang baik dan mulai mempelajari fase-fase pertumbuhan anak sejak kelahirannya, agar pada saat waktunya tiba akan lebih mudah untuk memanajemen semuanya.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s